Jumat, 29 Juni 2012

DRAMA KELAS V SDN 1 SELANEGARA

BUKAN LASKAR PELANGI

            Di sebuah desa yang cukup damai, dengan penduduk yang ramah terdapat 2 Sekolah Dasar (SD) yang saling bersaing yaitu SD N Mutiara dan SD N Batu. SD N Mutiara berasal dari keluarga kaya, sedangkan SD N Batu berasal dari keluarga kurang mampu. Akan tetapi SD N Batu berisi anak – anak yang sangat patuh dan cerdas. Prestasi mereka lebih unggul walaupun dengan sarana yang terbatas. Semangat belajar SD N Batu sangat tinggi walau kadang mereka ingin agar gedung SD mereka segera diperbaiki.
Suatu  hari di SDN Batu.........
Paijo                 : “ Woro – woro teman – teman aliasnya pengumuman gitu lohhh....Katanya akan ada siswa
                            baru di SD kita ini, pindahan dari SD N Mutiara”
Yanti                 : “ Iya..... Aku juga mendengarnya dari Bu Muslimah.... Buat apa ya dia pindah ke SD kita
                            ini... yang sudah mau ambruk” 
                           ( sambil menunjuk ke atap SD yang sudah rapuh dan berlubang )
Erna                 : “ Ha.... ha..... kayaknya anak itu cari sensasi aja...kayak artis-artis di televisi gitu...
                           ( sambil tertawa )
Johan               : “ Betul – betul Er... Enakan juga di SD Mutiara gedung nya bagus...tapi kan disana ga ada anak
                            yang pinternya ngalahin kita, ya ga? ( berlaga sombong )

Tiba – tiba Reza datang ......................
Reza                : “ Aduh teman –temanku semua... Ga usah minder dengan keadaan SD kita... dan ga usah
                            iri dengan SD Mutiara, Lihat aja di SD kita prestasi ga kalah....ya walau gedung SD kita
                            belum mendapatkan perbaikan dari pemerintah...entah kapan. tapi tetap
                            semangat.......!!!!!!!!!! (mengobarkan semangat teman –teman)
Paijo                 : “ Iyo Za.....Kamu kan siswa yang membuat SD kita bangga....”
Yanti                 : “ Anake pak Kyai doane yo manjur” ( dengan nada sok tahu )
Erna                 : “ Alhamdulillah yah... he...he”
Yanti+Paijo       : “ Hidup Reza Sang juara Umum Siswa Teladan”
Reza                : “ Hmmm.... bukan karena Aku saja ko.. tapi berkat kalian juga .. berkat semangat
                            kita yang selalu saling membantu jika teman ada yang kesulitan mengerjakan tugas”

            Bel sekolah berbunyi (tet....tet....tet....). Siswa berbaris dan masuk kelas. Mereka duduk dengan tenang sambil membuka buku pelajaran. Mereka sangat suka dengan guru mereka yang ramah dan cerdas yaitu Bu Muslimah. Beliau adalah sosok guru harapan bangsa. Bu Muslimah juga sangat sabar menghadapi bermacam–macam tingkah laku murid – muridnya.
Bu Muslimah     : “ Pagi murid – murid” ( tersenyum dengan ramah )
Siswa               : “ Pagi Bu Guru” ( serempak )
Bu Muslimah     : “ Anak – anak, apakah hari ini ada teman kalian yang tidak masuk?”
Paijo                 : “ Ada Bu...”
Bu Muslimah     : “ Siapa temanmu yang tidak masuk Paijo?”
Paijo                 : “ Johan Bu, sakit panunya kambuh lagi Bu...ha..ha..( tertawa terbahak – bahak )
Johan              : “ Saya hadir Bu, Paijo itu kali Bu yang panunya belum sembuh....”
Bu Muslimah     : “ Sudah anak – anak, pagi – pagi sudah senang bercanda,  Paijo nanti pulang sekolah
                            kamu bersih – bersih kelas dulu ya.......”
Paijo                 : “ Aduh dihukum lagi...nasibku ini.....”
Johan               : “ Harusnya kamu jera Jo...Bu Guru menasehati demi kebaikan kamu...”
Yanti                 : “ Makanya jangan usil ya....tapi bakal aku bantu bersih – bersih kelas ko...”
Erna                 : “ Ciye... ciye.... persahabatan bagai kepompong, hal yang tak mudah berubah jadi
                            indah...”( sambil bernyanyi )
Reza                : “ Penyanyi kita.... Beraksi...he...he....”
Bu Muslimah     : “ Sudah anak – anak....( sambil tersenyum melihat tingkah laku murid – muridnya ).    
                            Anak – anak kalian dapat teman baru pindahan dari SD Mutiara, Sini nak ..perkenalkan dirimu..”

            Perlahan siswa baru tersebut masuk ke dalam kelas, dia Putri namanya. Kemudian Putri memperkenalkan diri. Pada jam istirahat teman – teman mengobrol dengan Putri.
Putri                 : “ Wah ternyata SD kalian nyaman sekali ya....”
Karno                : “ Kenapa kamu pindah ke SD kita Put?” ( Heran )
Putri                 : “ Aku ingin sekolah disini. Aku sering melihat kalian bermain, begitu ceria dan Aku ingin seperti Reza
                             bisa jadi siswa teladan, Aku juga mau, makanya Aku mau pindah kesini”
Karno                : “ Wahhh... pengen jadi siswa teladan???”  ha....ha......haaaa ( tertawa )
Susi                  : “ Kenapa kamu tertawa Karno” ( bingung )
Karno                : “ Apa kamu bisa melewati tantangannya. Aku kira kamu tak akan sanggup.”
Putri                 : “ Tantangan.................siapa takut”
Karno                : “ Oke Aku tunggu kamu di jembatan jam 4 sore ya”

            Karno, Paijo, Susi, Putri sepakat bertemu di jembatan pada jam yang telah mereka sepakati. Karno menunjukkan rumah seseorang. Mereka menuju ke rumah tersebut dengan perasaan was – was. Ternyata mereka menemui Mbah Dukun Tarno.
Karno                : “ Permisi Mbah “ ( sambil ketakutan )
Putri                 : “ Kamu yakin kita kesini bisa jadi pandai seperti Reza?”
Karno                : “ Aku yakin, soalnya aku pernah melihat Reza masuk kerumah Mbah Dukun ini” ( berbisik )
Susi                  : “ Weleh  - weleh...Are you sure?” ( sok bahasa inggris)
Paijo                 : “ Ah kamu Karno... meragukan kepandaian Reza ya?”
Karno                : “ Ya ini kan bagian dari usaha juga kan Jo... Berusaha gitu...
                            Permisi Mbah...Mbah..... ( teriak lebih keras )
Mbah Dukun      : “ Ya cucu ada apa, silahkan masuk rumah Mbah” ( sambil membuka pintu )
Semua              : “ Terima kasih Mbah”
Mbah Dukun      : “ Ada apa cucu datang ke rumah Mbah?
Karno                : “ Mbah punya mantra – mantra yang manjur biar pintar dan bikin otak tokcer ga Mbah?”
Putri                 : “ Ya Mbah agar bisa menjadi siswa teladan tahun ini “
Paijo                 : “ Katanya Karno sering melihat Reza datang kesini Mbah, makanya dia bisa pintar
                            seperti sekarang.”
Mbah Dukun      : “ Oh begitu ceritanya.... Ya Mbah sudah tahu...Wani piro?????” ( nada bercanda ).

             Mbah lalu memberikan secarik kertas kepada mereka. Mbah Dukun meyampaikan pesan agar kertas tersebut dibaca dengan keras di tengah halaman sekolah pada saat jam istirahat. Mereka dengan penuh harap pulang setelah mendapat secarik kertas yang mereka anggap  mantra Pintar dari Mbah Dukun.
Jam istirahat di SD Batu ......
Reza                : “ Kenapa mereka berkumpul di tengah lapangan ya?” ( heran )
Yanti                 : “ Lagi pada mau berjemur kali Za , kayak orang di tepi pantai gitu”
Paijo + Karno    : “ Ayo kita buka dan baca dengan keras mantra yang telah diberikan Mba Dukun Tarno!
Susi   + Putri     : “ Ayoooo buka, kami juga sangat penasaran dengan mantranya...........1..........2...........3...........”
Semua              : “ MAU PINTAR MAKANYA BELAJAR” ( membaca kertas ).
Erna  + Johan    : “ ha.......ha.....ha.......” ( tertawa dengan keras )
Reza + Yanti     : “ Pasti kalian pergi ke rumah Mbah Dukun Tarno ya?”
Putri                 : “ Ko kamu tahu Za... Ko malah mantranya seperti ini Za, Kamu dulu diberi mantra apa kok
                            bisa jadi siswa teladan?.... Kamu kan juga sering kerumah Mbah Dukun itu?”
Reza                : “ Ya tahu lah, itu kata – kata yang sering Mbah ucapkan untuk Aku. Perlu Kalian ketahui
                             kenapa Aku sering datang kerumah Mbah Tarno...Ya karena Mbah Tarno itu adalah......”
Karno                : “ Adalah siapa Za?”( sangat penasaran )
Erna                 : “ Adalah kakeknya Reza, Mbah Dukun Tarno hanya seorang dukun pijat, bukan seperti
                            dukun yang kalian bayangkan, yang memberi mantra – mantra, Karno dipercaya...huhhh
Johan + Reza    : “ Hari gini masih percaya DUKUN, APA KATA DUNIA?”  Ha......ha..... ( tertawa ).
            Akhirya Putri, Karno, Susi, dan Paijo menyadari kesalahan mereka. Memang benar jika ingin pintar bukanlah dengan mantra dari mbah dukun tetapi dengan belajar keras.  Itulah kunci menjadi anak yang pintar seperti yang dikatakan Reza. Kemudiansetelah kejadian itu, setiap 2 hari sekali siswa SD N Batu belajar kelompok bersama Reza dan kadang  - kadang didampingi Ibu Muslimah. Dan pada tahun 2012 Reza menjadi Siswa Teladan kembali.
                                                                                                               Created@Bu_Septi











IKAN AJAIB
           
           
           
            Alkisah diceritakan di sebuah desa di pesisir pantai yang indah, hiduplah seorang kakak beradik yang pekerjaannya memancing. Mereka sangat kompak, selalu pulang dan pergi memancing bersama. Namun wajah kedua kakak beradik itu sangatlah berbeda. Udin si kakak sangatlah tampan, sedangkan si Tole tidak. Mereka selalu memancing di laut dekat rumah mereka untuk menghidupi mereka dan ibunya. Hasil pancingan ikan yang mereka peroleh dijual untuk membeli kebutuhan pokok rumah.
Biyung              : “ Tole, Udin sudah siang ko belum berangkat? ”.
Tole                  : “ Ya mamah sayang, nunggu kakak lama banget di kamar mandi ”
Biyung              : “ Gaya kamu Tole... wong desa ko panggil biyung kok panggilnya mamah.....Tole ...Tole....Anake
                             biyung yang selalu gawe biyung seneng, andai bapak kalian masih hidup, pasti bangga, anaknya                            sekarang sudah bisa cari uang sendiri” ( sedih )
Udin                 : “ Sudahlah biyung... jangan dipikir seperti itu, yang penting setiap hari berdoa untuk Bapak, disana                             Allah SWT sudah memberikan tempat yang paling indah untuk Bapak” (sedih )
Biyung              : “ Ya ko Din, Biyung juga selalu doain bapak”.
Tole                  : “ Biyungku semangat selaluuuuuu..... hm.............Abang mandi kok lama sekali, lagi pula kita cuma                           mau memancing, mana ada yang akan nglirik abang” ( sambil menepuk bahu Udin )
Udin                 : “ He...he.... Tole adikku... Mungkin kalau abangmu yang ganteng ni mandi akan tambah guanteng
                            tenan ...ikan – ikan juga bakal nempel kayak perangko ha....ha...ha....” ( tertawa )
Tole                  : “ Opo ea bang”
Biyung              : “ Sudah sana kalian pergi, biar rejekinya ga dipatok ayam”
Tole                  : “ Opone yung yang kepatok”
Udin                 : “ Maksude biyung supaya kita cepat berangkat, agar rejeki pancingan ikan kita makin banyak begitu                         Tole “
Tole                  : “ Oh begitu to”
Biyung              : “ Pancen ya tole, biyung lupa nyidam apa ya ko kamu beda banget sama abangmu yang pinter dan                           ganteng” .
Udin    +    Tole : “ Pamit,  ya biyung, doakan perolehan ikan kami banyak ”
Biyung              : “ Ya, nak Biyung selalu mendoakan kalian ”

            Lalu pergilah Tole dan Udin ke tempat mereka biasa memancing. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan tiga perempuan yang akan pergi mencuci di sumur desa. Lalu mereka mengobrol.
Wati                  : “Eh abang udin, mau mancing ya bang?”
Tole                  : “Ya nih”
Wati                  : “Siapa juga yang tanya sama kamu Tole...Kakak adik beda banget kakaknya ganteng gini tapi
                           adiknya ......... bedanya jauh sekali ............kaya Anyer sama Panarukan”
Rinem               : “ Aduh mbakyu Wati  jangan ngece gitu, Bang Tole kan temen Rinem dari kecil, orangnya baik ko”
Udin                 : “ Hm....................Kamu ko diem aja wi, ko ga tanya ma aku, padahal Wati dari tadi dah nyrocos                              mulu”. ( sambil menunjuk Wati )
Rinem + Tole    : “ Ciye bang udin, naksir ama Dewi tuh “ ( nada mengejek )
Dewi                 : “ Ya bang Udin, Aku ma temen – temen mau nyuci, kemarin hujan jadi sekarang cucianya numpuk,
                            abang mau bantuin apa?”
Udin                 :  “ Abang mau mancing Wi, tapi kalua abang bantuin .......mancing hatinya Dewi boleh ga?”  he...he...
                            ( tersenyum )
Dewi                 : “  Ah...abang Udin bisa saja , gombale..............“ ( tersipu malu )
Wati                  : “ Cemburu aku bang ” ( cemberut )
Tole                  : “ Sabar – sabar, Wati sama abang Tole saja”
Wati                  : “ Mending ga usah deh”
Rinem               : “ Ya sudah kita mau nyuci dulu ya bang, kalian mancingnya semoga dapat hasil yang banyak”
Dewi                 : “ Semoga embernya penuh dengan ikan bang “
Udin                 : “ Oke wi....”                


            Setelah obrolan mereka selesai, Tole dan Udin pun melanjutkan perjalanan menuju pesisir pantai. Disana sudah ada banyak pemancing ikan yang lain yang sedang konsentrasi memancing. Kebiasaan ketika mereka memancing yaitu sambil berbincang – bincang untuk mengurangi kejenuhan karena menunggu kail dinmakan ikan. Mengobrol adalah hiburan mereka sambil menunggu kail dimakan ikan.
Joko                 : “ Wah laut hari ini ombaknya cukup besar ya”.
Yitno                 : “ Iyo ..... iku kaya gep ana badai, tapi kayaknya bagus nih untuk acara mancing mania”.
Joko                 : “ Semoga pancingan ikan kita banyak ya akang Yitno, kita berdoa saja,ombak yang cukup besar tak                         mengganggu kita”.
Tole                  : “ Abang -abang pemancing sudah berkumpul semuanya to”.
Yitno                 : “ Ea,Tole, kamu dan kakakmu tumben baru sampai”.
Udin                 : “ Sorry Bang tadi habis ngobrol sama bidadari turun dari langit pada mau nyuci di sungai”.
Yitno                 : “ Oh Dewi dan teman - temannya ya din, ya paman doakan kamu jadi sama dia”.
Tole                  : “ Ko Aku ga di doakan juga paman”.
Yitno                 : “ Kamu semoga jadi sama ikan laut saja, buruan lempar kail pancingmu semoga ada ikan yang mau                           makan umpanmu”.
Tole                  : “ Ya Paman ”

            Mereka kemudian asyik memancing. Ember yang dibawa Tole lama – kelamaan terisi penuh oleh ikan. Sedangkan Joko dan Yitno telah beranjak pulang, karena pancingan ikan mereka sudah banyak untuk di jual di pasar. Tinggallah Tole dan Udin yang memancing di pesisir itu. Tiba – tiba kail Tole dengan kuat tersentak oleh ikan. Warna ikan sudah terlihat gemerlap seperti emas dari kejauhan.
Tole                  : “ Wah indah sekali sisik ikan ini bang” ( terkejut sambil mengelus ikannya )
Udin                 : “ Ya kulitnya seperti emas”
Setela dielus tiba – tiba.......
Ikan Ajaib          : “ Terima kasih, telah melepaskan aku dari kutukan”
Tole + Udin       : “ Ko.....berubah ”. ( sangat terkejut )
Ikan Ajaib          : “ Nama saya adalah Ijib, Ikan Ajaib, Aku dulu adalah seorang Pangeran, tapi Raja kahyangan tidak                            suka, karena aku malas belajar  lalu aku dikutuk jadi ikan emas”
Udin                 : “ Ijibnya adalah seorang pangeran yang malas belajar....... ha....ha...ha ( tertawa dengana keras )”
Tole                  : “ Apa di kahyangan ada sekolahan?”
Ikan Ajaib          :  “ Ya ada memang hanya orang di Bumi yang sekolah “
                            “Aku bisa mengabulkan tiga permintaanmu, sebagai hadiah karena kamu telah menolongku”
Tole                  : “ Wow kayak Jin yang ada di televisi yang bisa mengabulkan tiga permintaan, niru yang di tivi ya                              Jin?” he....he........ ( tertawa )
Ikan Ajaib          : “ Kamu mengejek aku ya” ( marah )
Udin                 : “ Tole hanya bercanda jin, maafkan Tole “
Ikan                  : “ Ya sudah kalian minta apa, cepat katakan atau aku akan kembali ke kahyangan”

            Lalu Tole dan Udin berunding untuk tiga permintaan tersebut. Permintaan pertama agar Rumah mereka lebih bagus. Seketika juga rumah menjadi bagus. Ibu sampai terheran – heran ketika sedang menyapu rumahnya berubah.
Ikan Ajaib          : “ Sudah aku kabulkan rumah yang bagus, nanti kalau kalian pulang kalian bisa lihat sendiri”
Tole                  : “ Ya terima kasih Jin, permintaan kedua, Aku ingin harta karena dari mbah dulu tujuh turunan adalah
                             keturunan orang kaya”
Ikan Ajaib          : “ Kenapa kalian sekarang miskin?” ( bingung )
Udin                 : “ Kami turunan ke delapan........ he....he” ( tertawa )
Ikan Ajaib          : “ Baik aku kabulkan permintaanmu, sekarang dirumahmu sudah banyak uang”
Tole                  : “ Permintaan terakhir aku ingin jadi ganteng seperti abangku”
Ikan Ajaib          : “ Ha.......ha.......ha....... ( tertawa )
Udin                 : “ Kenapa tertawa Ijib?”
Ikan Ajaib          : “ MAU JADI GANTENG MIMPI KALI YA”. ( memegang wajah Tole lalu menghilang )
           
            Setelah kejadian itu, mereka pulang. Kemudian kehidupan Tole dan Udin menjadi berkecukupan. Dengan harta yang mereka miliki mereka juga selalu membantu tetangga bila ada yang kekurangan.
                                                                                                                        Created@Bu_Septi







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar